Topik ini udah lama jadi bahan riset(?) aku jauh hari sebelum menikah, bahkan sebelum pacaran. Ya, jaga-jaga aja sih. Sebagai penganut agama sangat minoritas di Indonesia, dari dulu aku punya feeling bahwa besar peluang jodohku bakal beda agama. Harus realistis dong dengan kenyataan di lapangan. Kalau sampai harus nikah di luar negeri kan jadi ada tambahan biaya yang harus disiapkan, hehehehe.
Jadi jawaban judul blognya apa nih? Bisa IYA, bisa juga ENGGA.
Lho, kok gitu? Soalnya dari dulu ada kekosongan hukum di Indonesia mengenai pernikahan beda agama. UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 2 Ayat 1: "Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu." Apa tuh maksudnya? Kalau sah secara agama, maka bisa disahkan secara hukum kan? Hmm, tergantung yang menerjemahkan sih. Tapi yang akan aku share lebih ke kenyataan lapangan yang aku hadapi waktu mengurus pernikahan.
Sebagai latar belakang, aku beragama Buddha dan ber-KTP Tangerang sebelum menikah; suami beragama Katolik dan ber-KTP Bandung sebelum menikah; kami berdua berencana tinggal di Jakarta setelah menikah. Saat itu, kami punya 2 pilihan untuk mencatatkan pernikahan kami: pindah domisili KTP baru mencatatkan pernikahan, atau mencatatkan di domisili KTP kami saat itu, baru mengurus pindah domisili. Opsi lewat pengadilan atau mencatatkan pernikahan di luar negeri disimpan dulu selama opsi lainnya masih memungkinkan.
Awalnya, kami memilih opsi pertama, pindah domisili dahulu ke Jakarta. Hasil googling dan gosip kerabat menunjukkan bahwa pencatatan nikah beda agama di Jakarta bisa dilakukan. Namun, ketika mencoba menghubungi Dukcapil Jakarta sendiri
Selanjutnya, kami mencoba peruntungan di Tangerang. Susah payah datang ke Dukcapil Tangerang, cuma nerima penolakan. Tidak ada yang namanya pernikahan beda agama yang diakui di Indonesia, kata si petugas kekeuh. Kubilang di Jakarta bisa, langsung bingung dia. Setengah ga percaya sama kataku, setengah mulai ragu sama jawabannya sendiri. Akhirnya dibilang nanti dikonfirmasi lagi. Ujung-ujungnya tetap ga bisa sih. Malah sibuk ngerayu aku supaya ganti agama di KK aja biar sama dengan pasangan, ga jalanin agamanya gapapa katanya. Ish, kayak ga repot aja ganti agama di KK. Nanti klo diminta surat babtis gimana? Disulap dulu?
Akhirnya coba peruntungan lagi ke Bandung. Pertama, aku tanya lewat email dulu, toh dilihat dari twitter-nya Dukcapil Bandung ini masih cukup responsif. Ga lama, dijawab emailnya. Ga bisa katanya. Bingung deh. Perasaan bisa deh klo hasil baca-baca syaratnya. Jadi bingung kan apa harus balik ke opsi pindah KTP Jakarta dulu. Untungnya, (((ga lama kemudian))), Dukcapil Bandung email lagi dan meralat jawaban sebelumnya. Katanya ternyata sekarang bisa ding, dengan syarat tambahan surat keterangan warga gereja buatku, karena aku bilang menikahnya akan secara Katolik. Berhubung mama mertua aktif di gereja, minta surat aneh-aneh macam gini sih perkara gampang ya. Sik-asik, bisa kawin, yay! ^^
Sayangnya, administrasi di tiap kota memang beda banget. Jadi syarat dokumen di Bandung dan Tangerang juga beda banget-banget. Di Tangerang, dokumen yang diminta lumayan simpel, intinya dokumen terkait kedua mempelai. Kalau di Bandung, ribetnya tuh sampe minta dokumen ganti nama atau akta lahir orangtua (hasil nego karena ga punya surat ganti nama). Kata si babeh, "Lah yang kawin siapa kok minta suratnya sampe ke mana-mana?!" Maklum, doi sensi berhubung dokumennya banyak yang sulit diakses, berkat tidak terstandarisasinya dokumen masa lalu :))
Akhirnya kami berhasil mencatatkan pernikahan beda agama kami di Bandung. Cuma, karena dokumennya ribet, akhirnya molor banget sih, jadi hampir ngepas batas pencatatan sipil yang 2 bulan. Lewat dari batas itu cuma kena denda 100 ribu aja sih, ga sampai ga bisa juga... Di akta perkawinannya nanti, ga ditulis tentang agama masing-masing mempelai. Cuma ditulis menikah secara agama apa. Kalau pemberkatan di dua tempat, cuma bisa submit salah satu buat dicatatkan ya...
Setelah selesai dengan urusan catatan sipil, tadinya aku masih was-was dengan urusan Kartu Keluarga. Takutnya nanti agamanya beda dipermasalahkan. Tapi setelah ngurus KK di Jakarta beberapa bulan kemudian, ternyata ga dipermasalahin sama sekali sih. Pas masukin data memang petugasnya sempat salah, agamanya ditulis Buddha dua-duanya. Tapi begitu aku ralat, petugasnya langsung ganti aja, ga nanya macem-macem. Akhirnya beres deh semuanya, ga ada yang perlu pindah agama, yay! ^^
No comments:
Post a Comment